Hello Owner Honda CB, Hadirilah JAMNAS Honda CB Yang Ada Di….. Jepang!

Yang merasa terpanggil akan Honda CBnya monggo, saya titip salam aja sama oleh oleh yukata dan manju

Hai hai lur….

Barusan penuliz mendapat undangan…. [halah cuma postingan di fesbuk aja dianggep undangan :mrgreen: ] yaa… Yah baru baru ini ada notifikasi undangan facebook terbuka bagi para pengguna Honda CB. Yah melihat hal ini jadi teringat temen ane yang punya Honda CB125 tahun 75 orisinil, kayaknya bisa nih diajak. Pas tadinya rada antusias lalu ane buka… 😀

Capture

Continue reading

Loreca Alias Low Cost Green Car [LCGC], Kini Gimana Nasibmuuuu??

Pasar city car di indonesia tidak bisa diduga-duga akhir akhir ini. Pengaruh dari konsumen yang menuntut kendaraan yang makin ringkes dan efisien mendorong para ATPM untuk mengeluarkan gacoan mininya ke Indonesia. Hebatnya lagi karena animo yang begitu besar, hanya selang setahun saja menurut penuliz sudah terhitung kira-kira kurang dari 10 produsen yang mbrojoll keluarkan gacoannya masing-masing. Ini lebih hebat daripada people carrier maupun light suv yang rentang waktu berjalan di tanah air lebih lama daripada city car. Dan yang paling fenomenal adalah kebijakan pemerintah yang makin mendukung sektor mobil bermesin kecil seperti city car dengan menggodok rencana Low Cost Green Car [orang lain menyingkatnya LGCG, biar imud penuliz bilang loreca aja deh 😛 ]. Loreca ini adalah kunci utama Indonesia menuju mobil bermesin advance dengan harga merakyat, dengan loreca sedulur bakal menemukan genre mobil compact bermesin kecil, efisien dan hemat bahan bakar serta perawatan dengan tipe yang berbeda dengan city car. Bisa dibilang Indonesia tertarik memunculkan kei car. Ada yang masih bingung soal kei car?

masih ingat Daihatsu F-Concept? mobil pick up yang menyesuaikan regulasi LCGC alias loreca ini khusus dibuat untuk pasar indonesia berbasis Daihatsu Midget mk2

Kei car atau disebut K-car [temen penuliz memplesetkan dengan kecil car 😆 ] adalah kategori mobil kecil ala jepang. Mobil yang hanya diproduksi di jepang ini terdiri dari mobil penumpang, pick up dan minibus. Mereka didesain untuk menyesuaikan regulasi pemerintah jepang yang nantinya berimbas kepada pengurangan pajak mobil. Mobil ini didesain agar sesuai dengan lahan parkir yang makin minim di Jepang. Peraturan ini ditetapkan mulai dari tahun 1949 sampai sekarang dan evolusinya pun mulai beragam bentuknya. Mesinnya pun juga mengalami evolusi dari 360 cc, 550 cc sampai 660 cc.

Date Maximum length Maximum width Maximum height Maximum displacement Maximum power
four-stroke two-stroke
8 July 1949 2.8 m (9.2 ft) 1 m (3.3 ft) 2 m (6.6 ft) 150 cc 100 cc n/a
26 July 1950 3 m (9.8 ft) 1.3 m (4.3 ft) 300 cc 200 cc
16 August 1951 360 cc 240 cc
4 April 1955 360 cc
1 January 1976 3.2 m (10.5 ft) 1.4 m (4.6 ft) 550 cc
March, 1990 3.3 m (10.8 ft) 660 cc 47 kW (64 PS; 63 hp)
1 October 1998 3.4 m (11.2 ft) 1.48 m (4.9 ft)

^ Regulasi kei car di Jepang

kei car sudah ada sejak jaman dulu dan Honda N600 ini adalah hasil regulasi kei car jepang

Bisa dibilang inilah gambaran kecil tentang peraturan loreca yang sedang digodok pemerintah… ya basisnya memang dari kei car. Namun tentu akan berbeda peraturan kei car dibanding dengan peraturan loreca, mengingat perbedaan lingkungan antara Indonesia dan Jepang.  Setidaknya banyak petunjuk-petunjuk yang sengaja dibeberkan pemerintah tentang loreca, yaitu :

  • mesinnya 1000 cc – 1200 cc
  • figur konsumsi harus 1 liter 22 kilometer [1000 cc] dan 1 liter 20 kilometer [1200 cc]
  • kandungan lokal harus 80% keatas
  • punya pabrik perakitan di indonesia
  • nama harus berbau indonesia

Honda Brio, contoh mobil loreca yang udah kebelet dijual sebelum regulasi ditetapkan. Sukses di India dan Thailand.

Sementara masih itu yang penuliz tahu, tapi apakah loreca harus mesti mobil pelan dan tidak bertenaga serta tidak keren? nggak juga, kalau kita bercermin kembali dari kei car banyak loh genre dan spec yang telah dibuat produsen. Mungkin yang kita tahu hanyalah mobil penumpang seperti city car, pick up dan minibus kecil. Tapi kenyataannya produsen juga membuat mobil yang pure gaya dan trendy serta menunjang aktivitas para calon pembeli. Contohnya Suzuki Katana / Jimny / Caribian yang seperti kita tahu walaupun ia bermesin kecil tapi tetap andal buat aktivitas offroader, mobil ini gak K.O kalau suruh bertarung dengan tanjakan lereng merapi yang penuh batu sekalipun. Contoh lain adalah Daihatsu Copen Coupe Cabriolet yang stylish dan keren dibawa-bawa keliling kota. Ada pula Daihatsu Mira TR-XX Turbo 4WD yang didesain untuk balapan dengan mesin 660 cc karakter kencang, bodi ringan, sasis kuat dan rigid. Mobil ini bisa lari 0-100kpj dalam 8 detik dan dipakai dalam ajang rally di Jepang. So mungkin saja loreca bukan semata-mata hanya mobil famili bukan?

walaupun kei car ditakdirkan kecil bukan berarti ia ditakdirkan cupu kan? contohnya Daihatsu Copen ini yang bermesin 660 cc sajah

yang jelas apabila pabrikan sudah menggelontorkan mobilnya yang lulus peraturan loreca, maka bisa diharapkan harganya bakal dibawah 100 juta bahkan sekitar 50 juta. Josss ya? joooossssss…………. tapi makin murah makin banyak yang bisa beli dan makin sumpek semua kota di Indonesia, makanya peraturan SIM mobil harus dibuat seketat mungkin biar ga ada ceritanya anak kecil bisa bawa mobil atau orang bawa mobil malah buta peraturan lalin. Jangan lupa tiap kota diberi fasilitas transportasi yang memadai dan murah biar orang kota tetap memilih transportasi publik. Sehingga penerapan loreca ini tidak salah sasaran.

LCGC dorong peningkatan produksi

“Pemerintah Indonesia seharusnya segera merealisasikan regulasi Low Cost and Green Car karena ini merupakan salah satu faktor untuk membantu Indonesia mencapai penjualan 1 juta unit di 2012,” seru Vivek Vaidya, Vice President of Automotive & Transportation Practice Asia-Pacific Frost & Sullivan di Jakarta (18/1).

Lebih lanjut dikatakannya, regulasi LCGC akan membuat konsumen sepeda motor bisa masuk ke pasar mobil baru. “Ini pasar yang sangat potensial. Bayangkan produksi sepeda motor di Indonesia setiap tahunnya sekitar 5-7 juta unit,” lanjutnya.

Pria berkacamata ini juga mengatakan, hadirnya regulasi LCGC juga bisa meningkatkan investasi lebih besar pada industri komponen otomotif. “Sehingga pada akhirnya Indonesia menjadi pasar yang sangat potensial dan penting di mata pabrikan mobil dunia,” terang Vivek. Ia mencontohkan keuntungan yang dialami oleh India dan Thailand berkaitan dengan implementasi regulasi LCGC.

source from autobildindonesia.com

Hanya saja kebijakan ini masih belum rampung sampai sekarang dan para produsen mobil pun menunggu hasil dari kementerian perindustrian sambil berpikir mobil apa yang akan mereka sajikan dihadapan kita. Regulasi ini memang menjanjikan bagi sejumlah pihak namun bila pemerintah reaksinya telat bisa-bisa justru menjadi buah simalakama loh… Bahkan Honda Brio dan Peugeot 107 yang harusnya digolongkan loreca sudah dijual di kisaran 150 – 180 juta. Padahal dengan harga yang sama, sedulur bisa mendapatkan people carrier seperti Avanza Xenia yang seharusnya kelasnya diatas Brio dan 107 ini. Bahayanya bila hal ini dibiarkan saja maka harga people carrier yang seharusnya dibawah 200 juta bisa main di atas 200 juta karena ketidaksesuaian antara harga dan kelas atau spesifikasi mobil di tanah air. Oleh karena itu pemerintah harus bergerak cepat atas masalah loreca ini.

Mercedes ikut-ikutan program loreca gag ya? smart jelas memenuhi kualifikasi tuh. Sementara minjem fotonya kang taufik dulu ahh…

Bagaimana nasib mobil nasional ya?? kami menunggumu juga lhoo~~~!

Akhir kata, salam gendjooooooooooooossss!!!!

How Formula 1 Inspired My Life

Formula 1, mungkin bagi orang awam terlihat seperti nama suatu kandungan paling berbahaya dalam penelitian di laboratorium. Tapi ada juga yang menyebutnya seperti suatu merek odol (yaa iya sih tapi buka itu…). Nama yang terlihat sepele memang, namun jika disingkat menjadi F1, barulah orang-orang sepakat dengan apa yang penuliz maksud.  Formula 1 atau F1 tidak hanya salah satu ajang balapan terseru di persilatan olahraga tapi juga sekaligus paling berbahaya di dunia, juga sebagai ajang motorsport paling tua di dunia. Ada sebagian orang berpikir bahwa adu kebut jet darat nomer satu ini hanyalah ajang pembuktian uji coba masing-masing pabrikan motorsport, namun benarkah filosofi yang dikandung dalam F1 hanya sampai situ?

Apa yang membuat F1 terlihat begitu spektakuler? Terlebih di mata para pecinta motorsport? Bila menilik dari segi spek, tentu tidak bisa dianggap sebelah mata. Mesin yang menopang berkapasitas 2500cc, hm kekecilan? Tapi jangan kaget bila ia berkonfigurasi V10, bertenaga sekitar 750 hp, kecepatannya sekitar 360 kpj, dan putaran mesinnya bisa mencapai 18.000 rpm. Itu pun dipasang di race car dengan rangka super ringan dan aerodinamis yang beratnya cukup di angka kurang lebih 500kg saja. Jelas benda ini bukan sekedar mainan anak kecil, sedikit sentuh pedal gas dijamin badan terpelanting ke belakang. G-forcenya sangatlah besar, dan mobil inilah yang dipakai oleh para team berstandar internasional. Jelas race car ini sudah mengorbankan berbagai macam otak-otak para engineer team yang beradu di kompetisi ini. Apalagi drivernya tidak asal comot, harus mempunyai license racing dengan tingkatan paling tinggi di muka bumi ini dan dikeluarkan oleh FIA,  suatu federasi automotive dunia. Benda eksklusif ini bernama “super license” dan bila sedulur mendapatkan benda tersebut, otomatis sedulur berhak mendapatkan golden ticket untuk masuk ke kokpit roket jalanan tergila di dunia.

Lalu apakah dengan modal seperti itu saja F1 berkembang begitu saja? F1 menguji tidak hanya dari segi mekanisme, akurasi, strategi dan taktik tapi juga persahabatan, kerjasama, emosi, siasat, politik, permusuhan bahkan persatuan. Maka dari itu tiap sesi dari balapan F1 juga tidak kalah hebohnya dengan dunia motorsport lainnya seperti moto GP, WRC, Dakkar dan lainnya. Disana kita tidak hanya menjumpai adu sengit dan gesekan dari plat atau bahkan ban mobil satu ke lainnya namun juga pertempuran para pengemudi yang mempunyai semangat berkobar demi mempertaruhkan rekor kecepatan sekaligus nama baik team yang membuatnya melaju semulus mungkin di sirkuit. Apalagi soal siapa yang menjadi yang pertama finish dalam suatu grand prix, tentu menjadi kenikmatan tersendiri tidak hanya bagi joki jet darat itu sendiri, namun juga menjadi jawaban akan kontribusi dan harapan dari semua team yang ada.

Tiap komponen demi komponen, tiap rangka demi rangka, tiap bagian tubuh dari sang driver terkandung kepercayaan dan harapan bagi semua orang, tidak hanya kepercayaan team semata namun juga kepercayaan bagi para pendukungnya. Entah itu pendukung penonton F1, pendukung dari Negara asal driver, pendukung dari sponsornya, pendukung dari pabrikan otomotif yang menyokongnya atau pendukung dari penggemar produk pabrikan otomotif yang menyokongnya. So sudah jelas bahwa beban moral yang dibawa oleh driver dan kendaraannya sendiri justru menjadi “mesin sesungguhnya” bagi mereka berdua. Jujur kekompakan antar pendukung yang saling tidak langsung ini membuatnya menjadi ajang sport dengan supporter yang begitu besar, mungkin malah lebih besar daripada supporter sepak bola di piala dunia karena mereka tidak terbatas ruang dan waktu.

Hal inilah yang menyebabkan driver yang finish duluan dan menggendong piala besar kemenangan walaupun satu grand prix bisa mempunyai kebanggaan berlipat-lipat, mungkin perasaannya seperti menuai banyak padi yang menguning berton-ton beratnya. Tidak hanya itu, mendapatkan titel juara F1 championship seluruh musim adalah sebuah titel yang nyaris sama seperti dewa. Nama driver tentu akan diingat seluruh penonton yang telah menyaksikan jet darat tersebut dan tidak akan dilupakan tentu bersama team dan pabrikan yang ikut berkontribusi.

F1 juga bisa dibilang menarik karena banyak sekali karakter-karakter di dalamnya yang dapat memeriahkan situasinya. Michael Shumacher bisa dibilang sebagai legenda hidup karena menjuarai balapan F1 7 kali berturut-turut, walau terlihat legenda namun dia mempunyai karakter yang bisa dibilang mengerikan, malah bisa membungkam lawannya dengan senyuman saja. Aytron Senna juga dijuluki legenda hidup lantaran cenderung menjadi driver yang bisa menyihir lingkungan, bersorot mata tajam dan punya ambisi setingkat gedung WTC. Ada juga Kimi Raikonnen yang dijuluki Iceman, driver paling dingin dan minim ekspresi namun sebenarnya mungkin saja ia justru terlihat seperti orang bengong. Juan Manuel Fangio si driver pecinta wanita, bukannya ia playboy, ia banyak digilai wanita karena ia menghargainya. Dan masih banyak lagi karakter yang bermunculan di ajang motorsport termewah saat ini.

Walau ajang kebut legal paling tinggi sedunia ini selalu diterpa pasang-surut masalah, namun kompetisi ini tidak berbeda jauh dengan olahraga lain, membutuhkan stamina dan semangat. Banyak orang yang ingin menyerap dan menerapkan semua karakter-karakter yang timbul dari F1, termasuk penuliz. Dedikasi yang penuh, performa terbaik untuk mencapai puncak kenikmatan sejati, kekuatan akan menjawab harapan orang-orang dan semangat yang berkobar tiada henti tentu menjadi pencapaian dari tiap orang.

Hal ini bisa dilihat di pabrikan Infiniti, sebagai merek premium mobil yang berasal dari Jepang, bukan berarti ia harus diremehkan. Infiniti juga memetik poin penting dari kekuatan dan semangat dari F1 seperti ini. Hasilnya tentu saja jawaban dari harapan konsumen otomotif. Sedulur tidak hanya disajikan oleh mobil yang hanya bertitel premium saja. Infiniti punya performa, Infiniti juga punya semangat, Infiniti juga punya daya tarik yang membuat anda merasakannya begitu special dari ujung setir, ujung jok sampai ke ujung pedal. Seperti team work ala F1, kekompakan tiap perpindahan gigi, tarikan gas, respon kemudi, presisinya bodi mobil dipadu dengan kelembutan jok, kenyamanan ruang, kelegaan kabin, dan jaminan keamanan menjadikan mobil-mobil Infiniti begitu bersensasi. Kekompakan tiap antar elemen inilah hasil dari tiap buah demi buah pikiran para engineer Infiniti. Ya… filosofi sederhana yang tidak berbeda dengan F1 inilah yang menjadi kekuatan Infiniti dalam memproduksi mobil berkualitas dunia.

Simpel tapi mujarab bukan… inspired performance… from F1.

artikel ini mengikuti kompetisi infiniti F1 challenge