AISI : Motor Listrik Tidak Ideal Di Indonesia, Nggak Benar Tapi Nggak Salah Juga

Fenomena Gesits memang memberi efek cukup besar bagi sebagian masyarakat, selain ia bertenaga listrik, ia murah dan ia buatan negeri sendiri

motor-listrik-gesits-garansindo-its-2017-front

Yudakusuma.com – Kendaraan bertenaga listrik bisa dibilang innovatif bila di negara kita, meskipun saat ini di luar negeri bukanlah hal yang baru. Contohnya saja di mobil maka kita akan mengenal Tesla, lalu saat ini produsen mobil terkenal sudah mulai membuat mobil listrik. Sedangkan di motor maka kita mengenal Zero yang cukup aktif mengangkat soal motor listrik.

Namun baru baru ini seperti yang dikutip dari DetikOTO, AISI (Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia) melemparkan pendapatnya soal motor listrik yang dinilai tidak cocok untuk Indonesia. Lho yang tidak cocok apanya? Mereka menilai infrastruktur yang kurang memadai dan jarak tempuh yang terlalu pendek menjadi alasan tepat mengapa penilaian itu meluncur.

motor-listrik-gesits-garansindo-its-2017

“Kalau kontruksinya (alasan-Red) adalah perlindungan terhadap lingkungan, itu lain lagi ceritanya. Karena motor listrik sesungguhnya secara operasional meskipun investasi motornya lebih murah dari motor sekarang. Tapi sebetulnya kalau dihitung secara nasional itu mahal. Karena harus menciptakan infrastruktur listrik di suatu tempat,” ujar Gunadi.

“Misalnya kalau kita memproduksi listrik 30.000 kV diturunkan menjadi 200 volt, umpamanya. Itu kerugian, di perjalanan (dengan jarak yang lebih pendek-Red),” ujarnya.

“Maka sebetulnya ini (motor listrik-Red) bukan alternatif, dan merek-merek yang bisa membuat otomotif listrik, itu bukan targetnya (melahirkan motor listrik untuk masa depan-Red). Karena targetnya, nanti itu mereka akan melahirkan bahan bakar fuel cell, untuk menjadi alternatif di masa depan,” tambahnya.

motor-listrik-gesits-mohammad-al-abdullah

Setelah pernyataan ini banyak dibuat di berbagai situs media, CEO Garansindo Muhammad Al Abdullah pun langsung mengirim surat pada pejabat AISI. Menurut Muhammad Al Abdullah, pernyataan beliau ini terkesan terburu-buru menilai dan melawan arus [entah karena apa monggo sedulur pikirkan hehe…] Tapi sebelum penuliz memberikan pendapat sepertinya tidak afdol kalau belum tarik garis lurus ke belakang soal fenomena motor listrik ini.

So apa yang menarik dari kendaraan bertenaga listrik? berkaca pada luar negeri ketika kendaraan listrik dilempar ke pasaran, tidak sedikit orang tertarik untuk membelinya. Semisal Tesla, mobil ini memang bertenaga listrik tapi untuk kategori mobil ramah lingkungan yang dimana saat kita bahas setidaknya pasti anda terbayang Prius dengan desain absurd. Maka ketika Tesla masuk dalam kategori mobil ramah lingkungan, imagenya jauuuh banget dibanding Prius. Apalagi Tesla bukan sekedar hybrid tapi dia pure-listrik, otomatis ia menawarkan polusi nol.

tesla-model-s-2016-charging

Tidak hanya itu, kendaraan listrik juga menawarkan kelebihan yang tidak dipunyai kendaraan bertenaga bahan bakar biasa. Pertama adalah pengisiannya yang melalui listrik rumah, dimana di luar negeri harga bbm dan harga listrik perbedaannya cukup besar, sehingga ongkos perjalanan bisa lebih terpangkas.

Selain itu kendaraan listrik menawarkan maintenance free karena tidak mengganti oli atau hal yang sebagian besar berbau mesin/mekanis. Beberapa pirantinya cukup minim, hanya perawatan baterai dan rotor melalui komputer dan hal mekanis kecil seperti sok dan kaki-kaki. Apalagi di luar negeri emisi diperhitungkan juga untuk bayar pajaknya, sehingga bila emisi rendah apalagi emisi nol jelas menjadi keuntungan sendiri untuk memperpanjang STNK. Bonus lainnya adalah motor listrik menawarkan torsi yang superior, silahkan mencari drag strip Tesla ataupun Zero di YouTube, salah satu point yang bikin sumringah anak drag hehe.

zero-sr-2016-front-cornering

Nah beberapa kelebihan inilah yang ingin diadaptasikan Garansindo pada motor listrik di Indonesia. Karena meski kita punya segudang pil pahit tentang kendaraan listrik namun hal itu sudah lebih dari cukup untuk menyatakan bahwa kita bisa kok bikin kendaraan listrik. Pembuatan motor listrik Gesits tidak bersifat politis, lebih mengarah pure bisnis sebab Garansindo memang sudah menjadi ATPM beberapa merek mobil dan motor mewah, penjualan Zero Indonesia pun dipegang Garansindo. Oleh sebab itulah Gesits yang dikembangkan ITS bisa dibilang pirantinya mirip-mirip dengan Zero punya.

PENDAPAT PENULIZ

motor-listrik-gesits-speedometer-android

Dengan kelebihan dan inisiatif membuat sendiri dari Garansindo dan ITS pun menjadi wajar apabila ada beberapa pihak yang jadi waspada. Apalagi kini inden sudah dibuka dan produksi berjalan tahun 2017, pendistribusian jalan tahun 2018. Namun meski terlihat seperti villain, Penuliz juga merasa ada benarnya juga pendapat dari pihak AISI. Pertama soal pengisian, Indonesia memang masih sangat tidak siap tentang stasiun pengisian listrik. Tidak usahlah stasiun, rata rata listrik rumah di Indonesia saja 1300 Watt, meski masih fit juga sih untuk sekedar mengecas motor listrik kelas matic 125 cc.

Hanya saja perhitungan konsumsi listrik tiap hari untuk motor listrik di perumahan kita masih belum tahu. Apa benar lebih hemat ataukah sama saja memindahkan bujet BBM ke bujet tagihan listrik atau malah lebih mahal? Apalagi pembangkit listrik di indonesia kini masih belum bisa memenuhi kebutuhan listrik ideal Indonesia alias masih suka byar pet. Kalau masalah jarak tempuh pendek sebenarnya tidak jauh berbeda dengan problem point pertama tadi, dengan kisaran 80-100 km berarti motor ini hanya dipakai commuter kota saja.

stasiun-pengisian-baterai-gesits-motor-listrik-its-garansindo

Soal fuel cell? yap itu ada benarnya juga, dari penerawangan penuliz yang masih nubi… bisa dibilang teknologi fuel cell itu seperti mix & match teknologi listrik dan kendaraan BBM. Cara kerjanya mirip dengan teknologi listrik, hanya saja pengisian melalui hidrogen alias langsung bisa diisi dengan cepat seperti kendaraan BBM, tidak model ngecas berjam-jam. Secara singkat [bianget] sistem fuel cell ialah dengan mengkombinasikan senyawa hidrogen [H2] dengan oksigen [O] sehingga menciptakan listrik dan outputnya menjadi air [H2O].

Yup fuel cell bisa dibilang sebagai solusi praktis yang dibutuhkan saat ini untuk menggantikan BBM, contohnya seperti Honda Clarity, Hyundai Ionic dan Lexus LF-LC Concept. Tapi teknologi ini masih sangat lama untuk diadaptasi di motor, bahkan teknologi fuel cell saat ini sebagai mobil produksi massal masih sangat basic. Butuh waktu sangat sangat sangat lama agar kita bisa menikmatinya di semua kendaraan berbagai merek termasuk sepeda motor. Balik lagi ke motor listrik Gesits, ia adalah motor yang dimensi baterai dan rotornya kompak dan tentu tidak membebani listrik rumah karena hal tersebut.

zero-sr-2016-charging

Perkara tempat pengisian ini sebenarnya bisa dilakukan sembari jalan karena toh saat ini dunia sedang menaruh perhatian pada teknologi listrik. Di luar negeri perkantoran sudah menerapkan stasiun pengisian listrik untuk parkir kendaraan listrik. Jadi kalau Indonesia masih pending teknologi ini ya namanya kuno. Selain itu banyak project pengembangan baterai listrik saat ini agar lebih efisien sekaligus powerful. Bukan tak mungkin kedepannya pengisian kendaraan listrik bisa kurang dari sejam, jadi bagaimana menurut sedulur? kalau ada kendaraan listrik murah tertarikkah membelinya meski belum populer?

Nyetir sehat pasti pintar………………. Salam gendjoooooooooooossssss……….!!!

Advertisements

8 thoughts on “AISI : Motor Listrik Tidak Ideal Di Indonesia, Nggak Benar Tapi Nggak Salah Juga

  1. Biaya katanya 30% lebih murah dari premium. tapi itu belum kehitung harga batre yang sepertinya sangat mahal.

    motor listrik sebenarnya nggak ramah lingkungan selama PLN masih menghasilkan listrik pakai batu bara dan solar. Tapi memang sekitar rumah jadi lebih bersih, semua sampah lari ke PLN. Asal batre tidak asal dibuang karena sangat beracun.

    https://kupasmotor.wordpress.com/2016/09/10/pengisian-bahan-bakar-motor-listrik-gesits-perlu-tempat-pengisian-khusus-daya-tahan-batre-bisa-jadi-persoalan/

    • Tapi ya balik lagi kendaraan listrik tidak perlu ganti oli, filter, bersihkan injektor/karbu secara berkala dan lain lain… baterai jelas mahal tapi tentu komponen ini tidak akan rusak dalam waktu yang dekat. Jadi sebenarnya biaya perawatannya bisa dibilang sama / lebih murah. Hanya saja klo ganti baterai bakal terasa mukul banget ๐Ÿ˜‚

      Soal point pembangkit listrik nah ini yang masih jadi tanda tanya saya. Secara pembangkit masih konvensional, masih byar pet juga di beberapa daerah ๐Ÿ˜†

  2. Ralat mas bro, dari literatur yang saya dapat pada fuel cell, H2O yang dikeluarkan bukan dalam bentuk air (liquid), tapi gas. terus untuk mobil nggak bisa dibilang “sangat lama” juga aplikasinya, karena Toyota Mirai sudah meluncur, Porsche, Mitsubishi, Ashton Martin, dll rencananya 2-3 tahun kedepan.
    Kalau kendaraan listrik, saya sempat bahas ini di http://riderismo.blogspot.com/2016/09/mengatasi-kendala-kendaraan-listrik-di.html dan http://riderismo.blogspot.com/2016/09/mempertanyakan-argumen-ketua-umum-aisi.html
    ——
    http://riderismo.blogspot.com/2016/09/mimpi-mengharapkan-dohc-vva-di-yamaha.html

    • untuk masalah gas pembuangan mungkin maksud masnya uap air namun tetap menjadi air kok. bisa dilihat disini, saya hanya memberi gambaran singkat tentang proses kerjanya saja. seperti yang diutarakan TAM dalam press release mereka di GIIAS 2016

      saya pribadi cukup sering membaca perkembangan mobil listrik dan mobil hidrogen di carscoops dan autoevolution. bila kita sedikit mengingat tentang history mobil hybrid, perkembangan mereka cenderung lambat dari tahun 1997 hanya ada prius dan insight hingga 2015 yang baru bermunculan berbagai macam hybrid. mitsubishi menegaskan bahwa mereka kedepannya kana menggarap proyek listrik PHEV, porsche sendiri masih menggodok mission e yang mana itu adalah listrik dan aston martin justru konsen ke hypercar yang masih mengkonsumsi bbm

  3. Karena anak sekolah ga boleh pk motor. Sedangkan di desa ana ga ada angkot. Maka sepeda listrik disini laku bgt.
    Kalo punya duit dan harga gesit itu bisa lebih murah dr mio 125 ato suzuki addres. Boleh juga tuh motor listrik. Jarak tempuh 80km uda ideal buat comuter

  4. Bagus tuh kalo bisa ngcharge sejam..hbis prjalanan bisa rehat dulu.
    full lanjut lg.
    g kyak bb fosil, org sma motornya kuat2an nahan capek. Tiba2 ambruk!!

  5. yang menarik dari molis garasindo adalah, selain bisa di charge di rumah, mereka juga akan menyiapkan tempat penukaran battry jika kehabisan dijalan. dengan demikian kita tidak perlu memikirkan kerusakan battry karena bisa ditukar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s